Senin, 20 Desember 2010

"Terancam Musnahnya Jejak Peradaban Manusia"

Di satu sisi, gunung dan bongkahan es yang mencair barangkali akan membantu menyingkap rahasia purbakala yang masih ”membeku”. Namun, di sisi lain, suhu yang memanas juga perlahan tetapi pasti merusak situs peninggalan purbakala. Banjir, angin topan, dan permukaan laut yang naik adalah sedikit dari banyak ancaman pada peninggalan purbakala.
Para petinggi peserta Pertemuan PBB tentang Perubahan Iklim di Cancun, Meksiko, boleh saja berdebat sengit mengenai pengurangan emisi, tetapi jangan terlalu lama karena perubahan iklim tidak hanya mengancam kita, tetapi juga situs-situs peninggalan purbakala yang tak ternilai. Jika kita tidak bertindak cepat, tinggal tunggu waktu segala macam peninggalan purbakala akan hancur oleh es yang mencair, proses penggurunan, permukaan paras muka air laut yang naik, atau angin topan yang kian ganas dan semakin sering terjadi.
Kalangan arkeolog, Rabu (8/12), mengingatkan, perubahan iklim akan menghancurkan segala macam peninggalan berharga kita pada masa lalu.
Henri-Paul Francfort dari National Center for Scientific Research Perancis (CNRS) mengatakan, es yang mencair memang bisa menyingkap sedikit demi sedikit sejarah masa lalu, seperti ketika manusia purba ”Oetzi” ditemukan pada 1991. Selama ribuan tahun jasad Oetzi utuh karena membeku di dalam gletser Pegunungan Alpen.
Lapisan permafrost (lapisan bumi yang membeku permanen) yang selama ini melindungi peninggalan purbakala mulai mencair. Padahal, dalam bongkahan es masih banyak tersimpan mumi, kuda, bulu, baju, dan barang lain dari kayu.
”Banyak daratan yang mencair setiap tahun. Kalau tidak segera bertindak, akan terlambat,” kata Francfort yang memimpin tim arkeolog Perancis di Asia Tengah dan menggali makam- makam suku Scythia dalam es di Pegunungan Altai di Siberia.
Jasad Oetzi pada akhirnya bisa ditemukan juga karena gletser di Tyrol, Italia, menyusut dengan amat cepat. Gletser yang mencair terutama di Norwegia kini, kata Francfort, juga kian sering mengangkat penemuan purbakala ke permukaan.
Ancaman
Pada masa mendatang, pasti akan lebih banyak penemuan purbakala yang tiba-tiba ditemukan karena permukaan paras muka air laut diperkirakan akan naik hingga 1 meter pada 2100. Jika ini terjadi, sudah pasti puluhan situs purbakala akan tenggelam, apalagi situs yang berada di kawasan pantai, seperti di Kepulauan Pasifik.
Di Tanzania saja, misalnya, dinding Benteng Kilwa yang dibangun Portugis pada 1505 bisa hancur akibat erosi. Belum lagi reruntuhan Kota Panam di Sonargaon, Banglades.
Panam, yang dulu menjadi pusat keramaian di jantung Kerajaan Bengal (abad ke-15 hingga ke-19), kerap diterjang banjir. Karena kondisi itu, Panam masuk daftar UNESCO ”100 situs terancam punah akibat perubahan iklim”.
Bukan Panam saja yang rutin kebanjiran. Kondisi Chan Chan, bekas ibu kota peradaban Chimu di Peru dan pernah menjadi kota terbesar di Amerika Latin, juga memprihatinkan karena sering diterjang banjir bandang akibat El Nino.
Ahli purbakala Amerika di CNRS, Dominique Michelet, juga mengingatkan untuk mewaspadai angin topan. Kuil Tabasqueno milik suku maya di Meksiko harus direnovasi, bahkan beberapa bagian harus direkonstruksi karena rusak parah setelah diterjang topan Tornado Opalo dan Roxana pada 1995.
Pasir juga bisa menjadi ancaman mengerikan, bahkan musuh paling jahat bagi peninggalan purbakala, seperti terjadi pada bukit-bukit pasir di Sudan yang menutup piramida-piramida Kerajaan Meroe yang berjaya pada abad ketiga sebelum Masehi hingga abad keempat Masehi.
”Topan Gonu un dan Phet yang terjadi di Oman pada 2007 dan 2009 mengubur situs peninggalan purbakala yang ada di gurun pasir,” kata Vincent Charpentier dari pusat penelitian purbakala INRAP.
Situs peninggalan purbakala jelas kian terancam. Sayangnya, meski sadar akan hal itu, UNESCO belum serius mengidentifikasi situs-situs yang terancam. ”Situs purbakala ini bagian dari ingatan jejak sejarah peradaban manusia,” kata Francfort.
Pihak UNESCO dan masyarakat dunia, saran Francfort, harus bergerak cepat dan mencari solusi-solusi radikal untuk melindungi peninggalan purbakala. Barangkali perlu dicontoh upaya penyelamatan kuil batu Abu Simbel di Mesir. Dengan segenap bantuan dari komunitas internasional, pada 1960-an seluruh isi kompleks kuil batu itu dipindah agar tidak terendam akibat pembangunan bendungan di Sungai Nil.
Antropolog dari University of Northern Colorado, Michael Kimball, mengingatkan, bagi masyarakat, situs-situs purbakala bisa menjadi penanda identitas lokal, kebanggaan, bahkan pendapatan.
Kimball mengakui, kalangan ahli purbakala memang tidak akan bisa menghentikan pemanasan global. Namun, mereka bisa memprioritaskan penyelamatan situs purbakala. Caranya dengan mendokumentasikan situs-situs purbakala sebelum semuanya musnah. (Kompas.com)

1 komentar:

Wawank mengatakan...

Mantap bro,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Powered by Blogger
Free Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Website templateswww.seodesign.usFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver